6 Salep yang Paling Ampuh untuk Menghilangkan Jerawat


Jerawat bisa sangat mengganggu. Tidak hanya mengganggu penampilan, jerawat kadang juga menimbulkan rasa sakit. Tenang dulu. Mengoleskan salep khusus bisa jadi solusi terbaik buat Anda agar wajah bebas dari jerawat membandel. Nah dari sekian banyaknya salep jerawat yang ada di pasaran, mana yang paling ampuh? 

Rekomendasi salep jerawat di apotek

Salep adalah obat luar yang cara pakainya langsung dioleskan ke kulit. Salep jerawat ada yang dijual bebas dan ada pula yang wajib dibeli dengan menebus resep dokter. Obat-obatan tertentu harus disertai dengan resep dokter untuk diatur cara pakainya, karena biasanya zat obatnya lebih kuat atau berdosis lebih tinggi
Memilih salep jerawat tentu menjadi tantangan. Pasalnya, salah memilih salep bisa tidak cocok untuk mengobati jenis jerawat tertentu yang Anda miliki. Sementara jika pilihan Anda tepat, jerawat dapat teratasi dengan cepat dan minim efek samping. Nah, salep jerawat seperti apa yang terbaik?

1. Salep benzoil peroksida

Salep jerawat yang mengandung benzoil peroksida dapat Anda temukan di apotek, dengan atau tanpa resep dokter. Salep benzoil peroksida dari resep dokter biasanya mengandung dosis yang lebih kuat.
Benzoil peroksida bekerja membunuh bakteri penyebab jerawat dan mencegah sel kulit mati untuk menyumbat pori-pori. Benzoyl peroxide juga dapat mengurangi produksi minyak di kulit dan menjaga pori-pori tetap terbuka.
Untuk kebanyakan orang, benzoil peroksida terkenal ampuh dan efektif menghilangkan jerawat taraf ringan hingga sedang. Salep benzoil peroksida bisa dipakai sendiri, tapi juga dapat diresepkan bersama dengan obat-obatan penghilang jerawat lain, seperti clindamycin, eritromisin, dan adapalene.
Jika Anda menggunakan salep yang dari dokter, jangan menambah dosisnya lebih dari yang diarahkan. Hal ini malah dapat membuat jerawat susah sembuhnya, dan bahkan meningkatkan risiko efek samping seperti kulit kering mengelupas.
Pengobatan jerawat dengan benzoil peroksida rata-rata membutuhkan waktu sekitar 8-10 minggu. Jangan lupa untuk menggunakan tabir surya sehabis mengoleskan salep ini, terutama jika Anda akan ke luar rumah. Penggunaan benzoil peroksida meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar UV.
Pada minggu-minggu awal pemakaian, Anda mungkin akan merasa banyak jerawat baru yang muncul. Namun, jangan terlalu dikhawatirkan. Ini adalah reaksi yang normal, disebut purging. Seiring waktu, bintil-bintil jerawat akan berkurang dan hilang total. Meski begitu, jika setelah lebih dari 12 minggu jerawat tidak kunjung sembuh, segera temui dokter.

2. Salep retinoid

Salep jerawat retinoid mengandung vitamin A yang biasanya digunakan untuk mengobati komedo (blackhead dan whitehead) dan jerawat taraf ringan hingga sedang.
Retinoid bekerja mengangkat sel kulit mati sekaligus merangsang pertumbuhan sel kulit baru, mengurangi produksi minyak (sebum) di wajah, dan membuka pori-pori yang tersumbat.
Retinoid termasuk obat jerawat yang wajib ditebus dengan resep dokter. Takaran dosis dan penggunaanya juga harus mengikuti arahan dari dokter.
Retinoid memiliki beberapa turunan yakni tretinoin, adapalene, dan tazarotene dengan dosis yang berbeda-beda. Salep yang mengandung adapalene diklaim lebih efektif menghilangkan jerawat dibanding tretinoin.
Namun, beri tahu dokter dulu jika Anda saat ini sedang menggunakan skincare atau obat jerawat lain yang mengandung benzoyl peroxide. Tretinoin dan tazarotene tidak boleh digunakan berbarengan dengan benzoil peroksida, tapi adapalene bisa.
Salep retinoid dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap paparan sinar matahari, dengan efek samping berupa iritasi kulit kemerahan dan kulit terbakar matahari. Namun dibanding turunan retinoid lainnya, efek samping adapalene tergolong lebih ringan sementara tazarotene bisa lebih parah.
Untuk meminimalisir risiko terbakar matahari selama pemakaian retinoid, selalu oleskan tabir surya setiap kali akan pergi ke luar rumah. Kenakan juga pakaian yang melindungi kulit, seperti topi berpinggiran lebar dan kacamata hitam.
Jauhi sinar matahari langsung dengan sering-sering berteduh ketika situasi mengharuskan Anda beraktivitas di luar ruangan.

3. Salep antibiotik

Salep antibiotik bekerja menghambat pertumbuhan dan mematikan bakteri P. acnes yang menyebabkan jerawat.
Ada banyak macam jenis salep antibiotik, tapi yang paling sering diresepkan dokter untuk mengobati jerawat adalah clindamycin dan erythromycin. Tetracycline juga bisa diresepkan, tetapi jarang karena efek sampingnya dapat menyebabkan kulit menjadi kuning.
Pengobatan jerawat menggunakan salep antibiotik akan bekerja lebih baik jika dikombinasikan dengan obat jerawat lain. Pasalnya, antibiotik topikal bekerja lebih lambat untuk mengobati jerawat dibanding salep jerawat lainnya. Salep antibiotik bisa digunakan bersama-sama dengan, benzoil peroksida, krim retinoid, spironolactone, atau pil kontrasepsi (pil KB).
Salep antibiotik paling sering dikombinasikan dengan benzoil perosida atau retinoid untuk mengobati jerawat. Namun untuk kasus tertentu, terutama jika jerawat Anda disebabkan oleh gangguan hormon, maka spironolactone atau pil KB dapat diresepkan bersama salep antibiotik.
Pengobatan jerawat dengan antibiotik topikal biasanya hanya berlangsung 6-8 minggu. Hentikan pemakaian jika sudah waktunya untuk mencegah risiko bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik.
Perhatikan juga risiko efek samping dari pemakaian salep antibiotik yang berupa iritasi kulit, seperti kulitr kemerahan dan panas seperti terbakar, dan mengelupas. Minimalisir risiko ini selama pemakaian salep dengan mengoleskan tabir surya setiap kali akan ke luar rumah.

4. Asam salisilat

Salep jerawat lainnya adalah asam salisilat. Asam salisilat membantu meluruhkan sel-sel kulit mati dari folikel kulit, sehingga menjaga pori-pori tetap bersih dan mengurangi reaksi peradangan. Asam salisilat juga efektif untuk menghilangkan komedo, mengurangi minyak pada wajah, dan pembengkakan akibat jerawat.
Anda bisa membeli salep jerawat yang mengandung asam salisilat dengan kisaran dosis mulai dari 0,5% hingga 2% di apotek tanpa resep dokter. Namun, untuk kasus jerawat yang lebih parah, Anda membutuhkan resep dokter.
Salep asam salisilat jarang menimbulkan efek samping yang mengkhawatirkan. Namun, jika Anda mengalami efek samping di bawah ini setelah menggunakan asam salisilat, sebaiknya kunjungi dokter:
  • Kulit kering
  • Kulit terkelupas
  • Kulit terasa panas seperti terbakar
  • Iritasi kemerahan, gatal
Oleskan salep hanya pada pada daerah yang berjerawat sesuai dengan anjuran dokter.

5. Salep asam hidroksi alfa (AHA)

Salep jerawat yang terakhir dalam daftar ini adalah asam hidroksi alfa atau Alpha-hydroxy acids (AHA). AHA bekerja mengobati jerawat dengan membuka pori-pori yang tersumbat oleh kombinasi sel kulit mati, minyak (sebum), dan bakteri. AHA juga selanjutnya dapat membantu mengecilkan pori-pori agar kulit tidak lagi mudah berjerawat ke depannya.
Senyawa AHA itu sendiri sebetulnya terbagi lagi menjadi tujuh turunan, yaitu:
  • Citric acid
  • Glycolic acid
  • Hydroxycaproic acid
  • Hydroxycaprylic acid
  • Lactic acid
  • Malic acid
  • Tartaric acid
Dari ketujuh jenis AHA di atas, glycolic acid dan lactic acid adalah kandungan yang paling menjanjikan untuk mengobati jerawat dan lebih sedikit menyebabkan iritasi dibanding AHA lainnya.
Menurut Mayo Clinic seperti dilansir dari laman Healthline, efek obat biasanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan sampai terlihat hasil paling optimalnya. Pemakaian salep jerawat yang mengandung AHA harus konsisten. Sebab jika tidak, proses pengobatan bisa menjadi lebih lama.

6. Asam azelat

Sifat antimikroba dan antiradang dari salep asam azelat dilaporkan efektif untuk mengobati jerawat sekaligus mencegahnya datang kembali. Salep asam azelat juga bermanfaat untuk membersihkan pori-pori, meminimalisir risiko terbentuknya luka bekas jerawat, dan menyamarkan noda bekas jerawat.
Namun, salep ini sebetulnya jarang menjadi rekomendasi pertama dokter kulit karena cara kerja asam azaleat cenderung agak lama untuk menghilangkan jerawat. Biasanya untuk mempercepat efek salep ini, dokter akan meresepkannya bersama dengan obat jerawat yang lain. Ikuti dosis dan petunjuk yang diberikan dokter Anda saat menggunakan obat ini.
Salep asam azelat dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti kulit terbakar, kering, dan terkelupas. Efek samping lain yang jarang terjadi yakni iritasi, pembekakan, kesemutan, demam, dan sulit bernapas. Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala tak biasa selama dan setelah menggunakan salep ini.

Amankah salep jerawat digunakan oleh wanita hamil dan menyusui?

Pengobatan jerawat untuk wanita hamil berbeda karena banyak obat-obatan yang berisiko terhadap kandungan, atau belum diuji benar apakah aman atau tidak untuk wanita hamil. Di antara semua yang sudah disebut di atas, salep jerawat AHA dipastikan dapat digunakan pada wanita hamil.
Namun sebelum membeli salep jerawat di apotek, sebaiknya tetap berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Belum ada Komentar untuk "6 Salep yang Paling Ampuh untuk Menghilangkan Jerawat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel